Tags

,

some word for you 2 copy

Some Word For You

Rizeka’s present

Starring Jung Soo Jung  [ f(x) ] and Kim Jongin [EXO] duration Oneshoot genre Romance, Life slight!, Angst, Fluff (maybe) rating General

.

“Sejauh apapun aku melangkah menjauhimu, nyatanya aku tak akan kemana mana jika di dalam hatiku namamu masih ada di sana.”

.

.

.

Entah mengapa perasaan aneh terus melingkupi hati dan pikiranmu akhir-akhir ini. Setelah kejadian itu berlalu, membuat aku merasa kehilangan nafasku untuk sementara waktu. Semua karena kamu. Dadaku terasa berdenyut nyeri ketika aku kembali memikirkan sebuah nama yang sangat kusukai dulu.

Mungkin sekarang kamu sedang duduk di dalam rumahmu sambil melakukan sesuatu yang kau sukai, bermain piano atau sekedar mendengarkan lagu klasik yang dapat membuatmu tertidur.

Atau mungkin kamu sekarang sedang menikmati waktu liburan panjangmu yang menyenangkan. Dan mungkin juga kamu sekarang sedang tertawa menatap layar ponselmu seperti yang sering kau lakukan, berbalas pesan dengan seseorang yang kau cintai, dan tentunya itu bukan lagi aku.

Hanya memikirkan kamu dapat membuat aku kehilangan akalku. Ketika aku mencoba untuk melupakan kamu, otakku dengan egois melarangnya. Karena saat aku mencoba melupakanmu, semua terasa seperti lingkaran. Sebuah lingkaran yang tak pernah menemukan titik temu untuk sebuah tujuan. Tanpa sadar aku akan kembali ke tempat awal dimana semua kenangan tentangmu tersimpan dengan rapi. Seperti itulah aku sekarang untuk melupakan kamu. Sangat sulit.

Aku tidak pernah membencimu sedikitpun. Aku hanya membenci kenangan yang tak pernah bisa aku lupakan. Ayunan, piano, bunga mawar, cafe, taman, dan benda-benda atau tempat lainnya yang selalu kutemui. Menumbuhkan kembali kenangan yang kusimpan jauh-jauh dalam hatiku. Nyatanya aku masih belum bisa melupakannya sampai sekarang.

Ketika aku menulis ini aku sedang terduduk di atas ayunan sebuah taman. Aku memandang langit yang begitu cerah dan tak berawan. Aku serasa mencium aroma udara saat pertama kali kita bertemu disini. Aku serasa melihatmu sedang terduduk diatas sebuah ayunan kuning di depanku sambil tersenyum.

Kamu yang mengajakku bermain ayunan lagi. Kamu tahu aku takut padanya, mengingat aku yang dulu pernah terjatuh dari ayunan. Tapi kamu terus memaksaku untuk menaikinya. Dengan menggandeng lenganku pelan dan mendudukan aku di atas ayunan kuning itu.

“Ayolah hanya sekali, kenapa kau tak mau? Kau takut terjatuh lagi? aku akan mendorongnya dengan sangat pelan”

“Aku takut Jongin-ah..”

“Ayolah jangan takut, aku kan ada disini bersamamu…”

Ajakanmu waktu itu terasa mengiurkan berdengung ditelingaku. Aku merasa aman dan seketika perasaan takut itu sirna. Aku tak takut lagi pada ayunan yang akan menjatuhkanku, jika kamu ada didekatku dan mendorongnya dengan pelan. Kamu seperti obat yang mengatasi rasa ketakutanku waktu itu. Kamu terlihat hebat dimataku.

Some Word For You

Dan waktu semakin cepat berlalu, saat kita berdua tumbuh semakin dewasa. Saat dimana hari itu adalah hari ulangtahunku. Aku sempat merasa kecewa karena bukan kamu yang mengucapkannya untuk pertama kali disaat aku bangun tidur.

Tapi kau segera mengejutkanku dengan kedatanganmu di depan rumahku, sambil membawa sebuket bunga mawar merah yang aku sukai. Seraya tersenyum manis kearahku yang membukakanmu pintu. Dan kamu mengucapkan kalimat yang aku sendiri tak menyangka kamu akan mengucapkannya kepadaku.

“Jadilah kekasihku, Sojung-ah?”

Aku hanya menatapnya terdiam. Tubuhku terasa melemas, dan kepalaku terasa pening. Dada kiriku berdetak tak karuan seperti ada sebuah sirkus di dalamnya. Terlalu kencang dan ramai, membuatku kesakitan.

Dan entah bagaimana di detik berikutnya, air mataku mulai membanjiri kedua iris mataku. Waktu itu aku juga tak tahu alasan kenapa aku menangis di depanmu. Yang kupikirkan waktu itu hanyalah kamu yang memenuhi otakku. Aku merasa senang dengan pernyataanmu.

“Kenapa kamu menangis? kau tak mau menjadi kekasihku ya?”

Yang dapat kutangkap dari ekspresimu waktu itu adalah wajahmu yang ditekuk. Dan matamu yang mulai berkaca-kaca seakan kamu mulai untuk menangis. Tapi sedetik kemudian setelah aku berkata,

“Tentu saja aku mau Jongin-ah”

Wajahmu langsung berseri seperti bunga ceri yang sedang bermekaran. Senyum diwajahmu tumbuh semakin lebar. Akupun ikut tersenyum dalam tangis bahagiaku. Sambil menghamburkan diri memeluk tubuhmu yang berbau mint. Aku sangat menyukai baumu. Kamu juga menangis waktu itu. Kita berdua menangis dengan bahagia.

Some Word For You

Aku juga teringat hari dimana kamu mengajakku pergi bersama. Aku juga tak tahu apa tujuanmu mengajakku kesana. Kau bilang akan menunjukan sesuatu yang membuatku merasa senang. Aku hanya pasrah dengan apa yang kamu minta waktu itu, aku menuruti ucapanmu.

Kamu membawaku kesebuah ruangan yang sepi. Hanya ada kamu dan aku disana, ruangan itu gelap. Kamu menyalakan saklar lampu yang berada di samping pintu masuk. Masih dengan tangan kananmu yang menggengam tanganku erat. Aku suka genggaman itu, terasa hangat dan aku merasa aman di dekatnya.

Dan ketika keadaan ruangan itu sudah terang. Aku menagkap sebuah pangung kecil dengan sebuah piano berwarna hitam yang ada di tengan panggung. Kamu menyuruhku untuk duduk di deretan bangku yang sudah tertata rapi. Kamu memilihkan bangku yang paling terdepan dari panggung.

Kamu melepaskan tautan tangan kita yang saling menggengam. Kamu berjalan dengan tampannya menuju atas panggung, dan mendudukan badamu di depan piano hitam itu. kemudian sorot matamu menatap kearahku, tersenyum. Kemudian aku juga membalas senyumanmu itu. aku masih bingung dengan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya.

“Lagu ini kupersembahkan untuk kekasih tercintaku, Jung Soo Jung”

Aku mulai menatapnya dengan mataku yang mulai berkaca-kaca. Ketika denting piano itu memenuhi indera pendengranku. Dan aku tahu lagu apa yang ia mainkan—Always be my baby. Lagu yang sangat aku sukai dari David Cook.

Kamu terlihat benar-benar menawan di mataku. Sampai bulir-bulir air mataku menggenangi kedua pipiku. Aku merasa sangat bahagia. Dan lagu yang kamu mainkan telah selesai dengan tanpa ada kesalahan sedikitpun.

Lalu kamu berjalan lagi kearahku. Kini dengan tanganmu yang menggengam setangkai bunga mawar merah. Aku juga tak tahu kamu mendapatkan bunga itu darimana. Kamu berlutut di depanku dan menggengam tanganku hangat lalu mencium tanganku.

“Always be my baby, please?”

“Your majesty Kim Jongin”

Aku merasa seolah-olah wanita paling beruntung di dunia, hanya dengan memiliki kamu disisiku. Aku menerima bunga mawar yang kamu berikan dengan genangan air mata yang membuat pandanganku memburam. Aku menyukai semuanya, sangat sangat menyukai kamu, Kim Jongin.

Some Word For You

Sampai pada suatu hari, hari yang tidak pernah aku inginkan terjadi. Sifatmu kepadaku yang semakin berubah. Aku tak menemukan sesosok Kim Jongin lagi. Kamu yang hangat dan romantis, kamu yang selalu mencintaiku dengan sepenuh hatimu. Kamu terlihat berbeda, terlihat asing dimataku.

Aku tak tahu apa yang membuatmu seperti itu. Seingatku, aku juga tak pernah berbuat kesalahan apapun padamu. Tapi semakin hari kamu menjadi orang yang tidak aku kenal lagi.

“Apa ada masalah?”

“Tidak, tidak ada. Kamu sudah makan?”

Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Tapi aku hanya bisa diam dengan sikapmu. Kamu selalu menghindari pertanyaanku. Kamu selalu menanyakan hal-hal yang sama untuk beberapa waktu, dan itu membuatku sedikit jenuh.

Some Word For You

 “Aku bosan..”

“Carilah kegiatan agar kau tak bosan Jong..”

“Aku bosan dengan hubungan kita”

Kalimat itu bagai pukulan terbesar yang aku terima. Aku merasa bagai orang yang tak berguna. Aku merasa terjatuh dan itu rasanya sakit. Aku masih mencoba untuk terseyum menatap kedua iris matamu yang terus bergerak tak fokus ketika kutatap.

“Lalu apa yang kamu inginkan?”

“Apakah seharusnya kita berpisah saja?”

Dan langitpun seakan runtuh menimpa tubuhku, membuat tubuhku hilang rata dengan tanah. Oksigen disekitaku terasa menipis yang meyebabkan aku kesulitan bernafas. Dadaku bergemuruh dengan cepat. Mataku terasa pedih ingin mengeluarkan cairan bening itu lagi. namun dengan susah payah aku menahannya.

“Aku tidak mau, aku tidak mau berpisah denganmu Jong..”

“Lalu apa yang kamu mau?”

“Bertahanlah disisiku…”

Some Word For You

Hari yang membuatku hancur itu telah berlalu. Aku masih berusaha mempertahankan hubunganku denganmu, walaupun itu sulit. Dengan kamu yang selalu menghindari pertanyaanku. Akhir-akhir ini aku menjadi seorang pembicara yang aktif ketika bersamamu. Aku tak peduli akan hal itu. Aku tahu kamu mulai merasa bosan dengan kelakuanku. Tapi aku terus memaksamu untuk mengikuti semua kemauanku.

Aku tahu dengan pasti. Kamu bukanlah orang yang mudah diatur, kamu adalah seorang yang bebas dengan keinginanmu. Tapi tidak saat bersamaku. Kamu dengan penurut mengikuti semua kata-kataku. Raut wajahmu mengisyaratkan kamu terkekang. Dan aku malah tak mempedulikannya.

Aku menatap diriku pada sebuah cermin besar di kamar mandi. Aku menatap pantulan diriku di dalamnya. Saat itu aku menyadari betapa egoisnya diriku. Aku telah membuat orang yang sangat aku cintai hidup dengan tidak bahagia bersamaku.

Aku sudah sangat jarang melihat senyummu yang menghiasi wajah tampanmu akhir-akhir ini. Aku merasa jahat akan diriku sendiri. Aku telah menjahatinya. Dan aku hanya bisa menangis tersedu di depan cermin. Betapa buruknya aku.

Dalam kepalaku aku selalu memirikan semua hal tentang kamu. Tentang hubungan kita, tentang apa yang seharusnya aku lakukan untuk membuatmu merasa lebih baik. Dan aku sangat menginginkan sosokmu yang dulu, sosok yang sangat mencintaiku. Aku terus berpikir dengan keras, sampai aku mengabaikan diriku sendiri.

Some Word For You

Saat itu senyum yang mengembang di wajahku terlihat tumbuh begitu lebar, ketika mendapati sosokmu yang berada tak jauh di depanku. Kamu bediri memunggungiku. Punggung kekarmu yang saat ini ingin kupeluk dari belakang dan membisikan kata cinta yang manis. Sambil menghirup aroma mint yang keluar dari tubuhmu. Membayangkannya saja aku sudah merasa senang.

Namun senyumanku  tak bertahan lama, sampai aku melihat seorang gadis cantik berambut cokelat datang menghampirimu dengan membawa cone ice cream strowberry yang kamu sukai di kedua tangannya.

Aku hanya mematung di tempatku. Melihat kalian berdua memakan ice cream itu dengan gelak tawa bahagia. Dapat kulihat tawa dan senyum yang lebar terpasang di wajahmu. Senyum yang aku rindukan. Senyum yang hanya akan kau tunjukan di depanku dulu. Dan sekarang kau menunjukannya bukan hanya di depanku lagi, tapi di depan gadis lain. Dan aku tak suka akan hal itu.

Aku mulai berjalan menjauhinya dengan perasaan tak menentu. Hatiku yang serasa disayat pisau tajam. Dan mataku yang memburam tergenang dengan airmataku yang turun. Dada kiriku berdenyut dengan nyeri. Aku tahu kamu bukanlah orang seperti itu.

Berkali-kali aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu tidak akan lari dariku. Tapi semakin aku mencobanya, aku semakin tak bisa melupakan apa yang aku lihat tadi.

Aku berhenti dalam langkah tergesaku. Aku berjongkok dan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku tak peduli dengan apa yang orang pikirkan tentangku saat itu. aku hanya peduli dengan hatiku. Dan aku terus-terusan menyalahinya yang tak mau menuruti apa yang aku inginkan. Hanya tersisa rasa sakit ketika aku memikirkan namamu lagi.

Aku terus meraung di tengah jalan. Seperti seorang anak kecil yang kehilangan ibunya. tapi aku tak peduli. Yang sekarang terpikirkan di otakku adalah kamu yang sudah bosan denganku dan bahagia bersama gadis lain. Itu membuat hatiku sakit.

Some Word For You

Aku terus-terusan menangis sampai rasanya air mataku akan habis dan mengering. Kamu mencoba menghubungiku berulang-ulang kali, namun akhirnya aku mematikan ponselku dan memilih untuk menjauhkannya dariku. Aku sedang tak mau diganggu pada saat itu. Hanya pikiran-pikiran tentang sebuah akhir yang terus mengerogoti kepalaku.

Aku sebenarnya tidak pernah menginginkan sebuah kata akhir denganmu. Mungkin sekarang aku sedang mempermainkan sebuah permainan gila. Dimana aku mencoba dengan kuat untuk mempertahankan yang sudah seharusnya berakhir. Aku melihat dengan jelas akhir semua ini tapi aku tidak ingin melepaskan kamu pergi.

Aku memang terlalu egois. Egoismeku yang telah membuat aku seperti ini. Mempertahankan kamu yang sudah tak cocok lagi dengaku, semua karena aku yang egois, aku yang terlalu memaksakanmu.

Sampai akhirnya aku menyadari, bahwa keegoisanku ini bukan membuat kamu selalu ada bersamaku, tapi keegoisanku ini akan membuatmu semakin jauh dariku. Aku baru sadar akan hal itu, dan aku menyesalinya dengan sangat

Some Word For You

 “Aku ingin kita berakhir..”

Aku memberanikan diriku untuk menelfonmu. Suaramu diseberang sana terdengar begitu khawatir tentangku. Hanya kalimat singkat dan penuh makna itu yang aku ucapkan, lalu mengakhiri sambungan telefon tanpa sepatah katapun lagi.

Aku masih tak habis pikir dengan apa yang barusan aku lakukan. Perasaan lega sedikit terselip diantaranya, namun perasaan sakit yang aku rasakan lebih mendominasi semuanya.

Tapi ketika aku mengingat kembali semuanya, aku merasa tindakanku ini memang benar. Aku tak akan menyesalinya suatu hari nanti. Aku hanya ingin kamu bahagia dengan wanita yang benar-benar kamu cintai saat ini. Bukan dengan wanita yang mengekangmu dalam dunia miliknya, seperti aku yang mengekangmu.

“Eomma aku ingin meneruskan kuliahku di luar negeri saja..”

Some Word For You

Tepat sebulan yang lalu aku kembali kenegara asalku—Korea Selatan. Dan nyatanya walau aku pergi darimu begitu jauh dan lama, aku masih selalu teringat denganmu.

Satu-satunya tempat yang ingin aku tuju yaitu taman dengan sebuah ayunan berwarna kuning yang sekarang sudah usang, tempat dimana aku bisa mengenangmu yang sekarang bukan milikku lagi. Kamu yang dulu mengajarkan aku agar tidak takut bermain ayunan lagi, dan kamu berhasil.

Entah sudah berapa lama aku melamun, memikirkan semua kenangan yang pernah kita lalui dulu, sampai tiba-tiba seorang anak kecil datang kearahku sembari memberikan aku setangkai bunga mawar merah kesukaanku. Aku tersenyum bingung dan menerimanya, kenapa anak ini memberiku bunga?

Dan ketika setiap orang yang melewatiku memberikan aku bunga mawar satu persatu yang aku terima dengan senang hati. Aku terus menerima bunga sampai bunga mawar ini memenuhi seluruh tanganku, jumlahnya sangat banyak. Dan aku tak tahu kenapa mereka semua memberikan aku bunga mawar.

Aku merasa sedikit aneh.

Bip! Bip!

Bunyi ponsel menggangu lamunanku. Ketika tanganku beranjak untuk membuka pesan yang tertera di layar ponsel. Aku tertegun, orang yang sudah lama kutinggalkan mengirimiku sebuah pesan. Kamu mengirimiku sebuah pesan yang singkat.

“Terimakasih sudah kembali”

Aku megalihkan pandanganku dari layar ponsel, cairan bening favoritku sepertinya akan keluar lagi. Diusiaku yang menginjak 25 tahun ini aku masih saja menyukai saat-saat aku yang menagis karena kamu.

Aku memang gadis cengeng. Ketika aku menyadari sosokmu yang selama ini aku rindukan berada tepat di depanku—lebih tepatnya sedang berjalan kearahku dan tersenyum dengan lembut. Kim Jongin.

Kamu sudah berbeda dari yang terakhir aku lihat. Kamu yang sudah lebih tinggi dari saat terakhir kita bertemu, dan kumis tipis diatas bibirmu. Tapi sorot matamu yang masih sama seperti dulu. Sorot mata yang mengisyaratkan sebuah cinta yang dalam. Dan cinta itu hanya kamu tujukan untukku seorang.

Entah apa yang harus aku lakukan saat ini. Memarahimu seperti dulu sudah tidak mungkin. Aku masih menantimu dan berharap kau kembali meskipun saat itu aku sudah memutuskan untuk berpisah denganmu dan pergi menjauh darimu. Tapi sejauh apapun aku melangkah menjauhimu, nyatanya aku tak akan kemana mana jika di dalam hatiku namamu masih ada di sana.

Aku melihatnya merogoh saku jaket yang ia kenakan, sebuah kotak kecil sekarang ada di genggamanya. Jongin tersenyum lembut sekali lagi kearahku. Membuka kotak itu, dan hal yang aku lihat di dalamnya adalah sebuah cincin berlian yang sangat indah.

“Maukah kau kembali kesisiku lagi Soojung-ah?”

Dan lagi-lagi aku kembali menangis saat ia mengutarakan perasaanya padaku. Entah senang entah sedih, hanya satu hal yang terlintas di pikiran dan hatiku. Bahwa selama ini yang aku pikirkan tentangnya semua adalah kesalahan. Ia tak pernah mencintai gadis lain selain aku teritung 7 tahun terakhir ketika aku memutuskan untuk menjauh darinya.

Waktu itu aku salah telah mengiranya jatuh cinta dan bahagia bersama gadis lain selain aku. Ternyata semua itu tidaklah benar. Jongin menjelaskan semuanya padaku.

Dan lagi-lagi air mata sialan ini kutumpahkan lagi di hadapannya setelah 7 tahun itu berlalu.

“Aku sudah tau jawabannya, kamu menangis, artinya kamu menerimaku lagi kan?”

Semua terasa seperti dejavu, saat-saat dimana aku dulu yang menangis saat dia datang kerumahku di hari ulangtahunku dengan sebuket bunga mawar di tangannya. Aku dulu menangis sebelum menerima pengakuan cintanya.

Sekarang aku sadar aku menangis karena aku merasa bahagia, melihatnya kembali ke sisiku. Mendengar ucapan manisnya untuk menjadikan aku miliknya kembali. Aku sekarang tahu alasan kenapa aku menangis. Karena aku sangat mencintainya.

“bagaimana aku bisa menolakmu? Tentu saja Kim Jongin, aku mau.”

Dan semua orang yang tadi memberiku bunga mawar bekumpul dan bertepuk tangan menyoraki kami berdua layaknya sepasang aktris dan aktor yang memenangkan sebuah penghargaan atas drama yang dibintanginya.

“Ternyata bunga-bunga mawar ini adalah ulahmu kim Jongin?”

“tentu saja, siapa lagi kalau bukan aku yang masih ingat kalau kau menyukai mawar merah?”

Aku hanya bisa menangis—lagi ketika ia mengucapkannya. Aku benar-benar seorang wanita yang sangat beruntung, memiliki seorang pria sepertimu Kim Jongin.

“Will you marry me?”

Aku terkejut mendegar ia mengucapkannya.

Jongin mengambil cincin yang tadi ia bawa, dan meraih tangan kiriku. Memasangkan cincin itu di di jari manisku, dan mengecup tanganku lembut. Cincin itu terlihat sangat pas dan sangat cantik dijariku.

Bagaimana dia bisa mengetahui ukuran jariku yang sudah berbeda dari 7 tahun yang lalu. Kim jongin memang selalu terlihat keren dimataku. Dengan segala hal-hal yang membuatku terkejut. Aku menghamburkan diriku pada pelukan hangatnya lagi. pelukan yang sangat aku rindukan.

“Yes, I would..”

Ini semua terasa seperti mimpi, setelah tujuh tahun berlalu dengan aku yang pergi meninggalkannya hanya karena rasa sakit atas kesalahpahaman yang aku buat sendiri. Dia masih setia menungguku pulang sampai saat ini.

Dan sekarang ia mengajakku untuk memulai hubungan baru yang lebih serius. Kamu mengajakku menikah. Sekarang sudah tak ada lagi air mata yang menggenangi mataku lagi. hal yang sekarang aku rasakan hanya aku-bahagia-berada-di pelukan-Jongin.

Dan hanya satu kata yang aku tegaskan dalam hati dan pikiranku, adalah aku mencintai Kim Jongin, selamanya!

 

 

Fin.

 

A/N : FF ini dulu pernah aku posting di KFI ( Kaistal Fanfiction Indonesia) dan masih dengan menggunakan nama pena lamaku yaitu ‘babykim’. Jadi kalo mungkin pernah ada yang baca cerita ini, ini cerita punyaku ya karena aku sekarang udah ganti nama pena jadi Rizeka hehehe ^^ Thanks for reading, kritik dan saran masih dibutuhkan~~

 

Advertisements