Drabble · Fluff · Romance

Just A—Little Thing

little thing poster copyLittle Thing

A story by CottonCandy

cast Kim Yeri [RV] and Kim Jungkook [BTS]

genre Romance, Fluff (maybe) slight!Life | duration Drabble (Series) | rating G

Disclaimer: I only own the plot ,the characters are all belong to themselves and God. Do not take it out without my permission.

 

Aku menjadi kekasihmu ini semua takdir atau kebetulan?

.

.

.

.

 “Jungkook oppa..”

“Hmm..”

“Oppaa..”

“Hmmm..”

Yeri mendengus sebal sambil meletakan bolpoint pink-nya ke sembarang tempat. Lagi-lagi Jungkook  mengabaikan Yeri yang sudah sejak satu jam yang lalu menemaninya berkutat dengan segala jenis buku-buku tebal yang memusingkan.

Yeri sudah membuat janji dengan Jungkook untuk jalan-jalan di akhir pekan. Disinilah akhirnya mereka sekarang, duduk membosankan di dalam sebuah perpustakaan dengan buku tebal yang berdebu.

“Oppa..”

“Hmm..”

Jungkook menjawabnya dengan gumaman lagi, tanpa melepaskan pandanganya dari layar laptop yang menampilkan program microsoft word itu. Jungkook hanya membalas pertanyaan Yeri seadannya, tak terlalu tertarik dengan ocehan gadis itu—atau memang sengaja mengabaikanya agar membuat gadis itu kesal.

Seakan tak puas dengan responnya Yeri mendengus kesal sekali lagi. Menyibak-nyibakan halaman bukunya keras-keras agar Jungkook menoleh ke arahnya. Namun hal itu sia-sia semata. Tak ada yang bisa mengalihkan perhatian Jungkook dari laptop dihadapanya.

“Oppa, sampai kapan aku harus merangkum buku buku ini?—”

“—kalau seperti ini terus, aku mau pulang saja!” rengek Yeri mulai tak tahan.

Rentetan kalimat yang keluar dari mulut manis Yeri sepertinya berhasil mengalihkan perhatian Jungkook untuk sejenak. Tugas sebagai ketua OSIS yang diembanya memang cukup banyak menyita waktunya akhir-akhir ini. Sebuah kebetulan Yeri diangkat menjadi sekertaris baru, dan sudah pasti akan memiliki waktu bersama lebih lama berdua dengan Jungkook. Sayangnya waktu akhir pekan pun tetap mereka gunakan bersama, tetapi dengan setumpuk tugas diantara mereka.

“Perlukah aku menjawab pertanyaanmu nona Kim?”

“Tidak perlu!”

Yeri  berseru sambil mengambil kembali bolpoint yang tadi  ia lempar sembarangan. Kini Yeri mulai melancarkan aksi jengkelnya, yang malahan terlihat semakin manis dimata Jungkook. Jungkook kembali melengos dan meneruskan aktifitasnya di depan laptop.

“Lihat saja, aku akan menyelesaikan tugasku dengan cepat !”  Yeri berdecak sebal dengan sedikit penekanan di setiap kalimatnya. Yang membuat Jungkook kembali meliriknya.

“Ok! Dan kalau kau kalah kau harus memberiku sebuah ciuman di pipi.” Ucap Jungkook enteng.

Yeri  mendengus kesal. Sejenak ia berpikir untuk membuat taruhan dengan Jungkook.  “Baiklah! Tapi jika aku menang kau harus mentraktirku makan es krim sepuasnya! Bagaimana?”

“Setuju!”

Tunggu saja Kim Jungkook yang sok mengatur, akan kutunjukan kemampuanku. Ujar Yeri seraya menorehkan kembali bolpoint-nya diatas kertas dan kembali berkutat dengan buku-buku tebal yang membuatnya terbatuk-batuk—karena berdebu.

Yeri meletakan kembali bolpointnya setelah ia mendapatkan beberapa lembar resume dari materi yang dibutuhkan. Kepalanya menoleh dan matanya melirik ke arah Jungkook yang masih sibuk mengetikan jarinya diatas papan ketik laptop berlogo buah apple yang digigit sebagian. Di detik berikutnya sebuah pertanyaan muncul di benak Yeri.

“Hei Kim Jungkook, menurutmu aku menjadi kekasihmu ini semua takdir atau kebetulan?” tanya Yeri iseng pada Jungkook tanpa menggunakan embel-embel ‘oppa’ seperti biasanya. Yeri menggoyangkan tangannya mencoba mengusir rasa pegal yang mulai menjalar.

“Takdir.”

“Kita saling menyukai itu takdir atau kebetulan?” sebuah pertanyaan lagi-lagi meluncur dari bibir Yeri. Membuat Jungkook melepaskan kacamata bacanya dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Yeri yang sedang merenggangkan otot-otot pinggangnya yang kaku.

“Itu adalah sebuah keharusan Yeri-ya.” Ia menjawab, membuat Yeri menghentikan aktifitasnya— malu setengah mati. Kemudian Yeri membenarkan kembali posisi duduknya.

“Lalu..jika nanti kita—”

“Berhentilah melontarkan pertanyaan konyolmu, Yeri-ya. Di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan, yang ada hanyalah takdir. Mengerti kan? Kembali bekerja!.” Perintahnya seraya kembali menghadap ke depan laptopnya dan memakai kacamata bulatnya.

Yeri menghela nafas panjang. Kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Ah baiklah..tapi satu pertanyaan lagi boleh kan?” Yeri mulai menawarnya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke udara membentuk angka satu. Yeri pun memasang jurus mematikannya—aegyo, di depan Jungkook.

“Apa?”

Jungkook menjawabnya tanpa melirik ke arah Yeri, namun ia tahu Yeri sedang mengeluarkan jurus mematikan yang tak bisa Jungkook tolak sedikitpun.

Mata Yeri berbinar senang ketika Jungkook bersedia memberinya kesempatan bertanya satu kali lagi. kemudian Yeri sedikit memajukan tempat duduknya dan mengambil posisi agar lebih dekat dengan Jungkook yang duduk di depannya.

“Kalau dulu aku berhenti menyukaimu..itu takdir atau kebetulan?”

Jungkook terdiam, sedangkan Yeri tersenyum nakal.

“….Kebetulan.” jawabnya setelah diam beberapa saat yang lalu. Nada bicaranya terkesan pasti namun diantara itu terselip sedikit keraguan disana, Yeri tahu itu.

“Oppa..tadi kau bilang tak ada yang namanya kebetulan di duna ini?” Yeri menggoda Jungkook dengan menirukan gaya suaranya yang khas, sambil membereskan beberapa tumpuk dokumen yang sudah hampir selesai ia kerjakan.

“Takdir itu terbagi menjadi dua; takdir absolut dan takdir relatif. Kebetulan itu masuk kedalam takdir relatif..”

Oh pintar sekali kau memutar balikan ucapanmu, Kim Jungkook!

Yeri merapikan tumpukan kertas itu kedalam stopmap plastik yang ada di depannya. “Lalu?” imbuh Yeri.

“Takdir relatif itu akan membawamu ke takdir absolut, yang tak lain adalah takdirmu yang sebenarnya, Yeri-ya,”

Jungkook masih berkutat denga laptop di depanya sambil menjelaskanya pada Yeri. Ia membuka sesuatu yang sering dibuka oleh para lelaki umumnya, tanpa Yeri ketahui tentunya.

“Memangnya kau tahu takdir absolutku oppa?” Yeri menatap kekasihnya—Kim Jungkook dengan alis yang bertautan. Ekspresi bingung jelas tergambar di wajahnya.

“Takdir absolutmu hanya ada satu Yeri-ya, sini ku beritahu,” Jungkook meminta Yeri mendekatkan telinganya ke mulut Jungkook. Yeri pun menurutinya dengan mencondongkan badanya ke arah Jungkook.

“Takdirmu adalah—”

—menjadi kekasihku selamanya!” bisik Jungkook sepelan mungkin di telinga Yeri, yang sontak membuat Yeri gelagapan dan segera menarik tubuhnya menjauhi Jungkook.

Yeri tak bisa mengelak lagi. Ucapan Jungkook barusan sukses membuat pipinya merona merah, Yeri sangat malu.

Jungkook bukanlah tipe pria penggoda dengan kata-kata manis yang selalu dilontarkanya kepada kekasihnya. Namun hal itu tak berlangsung lama. Yeri kembali teringat dengan taruhanya bersama Jungkook beberapa waktu lalu. Yeri yakin seluruh uang saku Jungkook pasti akan habis hari ini hanya untuk mentraktir Yeri makan ice cream di depan sekolahnya.

“Tugasku sudah selesai!”

Senyum kemenangan jelas terukir di wajah mungil milik Yeri. Ia menenteng stopmap plastik yang berisi dokumen penting mengenai darmawisata tahun ini. Yeri meletakan dokumen itu tepat di hadapan Jungkook. Jungkook mengeryitkan alisnya.

“Kau kalah tuan Kim yang sok hebat!” Yeri tersenyum meremehkan. Jungkook hanya menggelengkan kepalamya melihat tingkah kekasihnya yang sangat lucu, menurutnya.

“Pabo,” Jungkook berujar pelan.

Yeri sejenak mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?” Jungkook tak menjawabnya, malahan ia mengerlingkan senyum nakal ke arah Yeri membuat Yeri sejenak mengalihkan pandanganya dari Jungkook.

‘Apa yang salah dengan hari ini, kenapa suhu di ruangan ini sangat panas?’ Yeri mengibaskan telapak tanganya. Sungguh ketika Jungkook tersenyum seperti itu membuat seluruh wajah Yeri terbakar karena malu sekaligus senang. Rasa yang terus bercampur dalam dirinya.

“Yak! Apa yang sedang kau lakukan Kim Jungkook!”

Dengan kuriositas Yeri yang tinggi ia mendudukan dirinya di samping kursi yang sedang Jungkook tempati. Kemudian matanya membulat seketika, saat sejenak melirik ke arah laptop yang sudah tak lagi menampilkan deretan dokumen memusingkan, melaikan video game yang biasa Jungkook mainkan.

“Yak! Sejak kapan kau bermain game?”

“Sejak kau mulai mengoceh tak jelas, jadi mana hadiahku?” goda Jungkook yang semakin membuat wajah Yeri memerah.

“Hadiah? Hadiah apa? Ayo pulang!” Yeri menghindari tatapan Jungkook yang membuat sesuatu di dalam perutnya terus bergejolak tak jelas. Yeri hendak mengangkat kakinya melarikan diri dari serangan lelaki-yang-sangat-mempesona, di sampingnya itu, sebelum tangan Jungkook menahanya.

“Aku ingin hadiahku”

“Tidak akan pernah!”

Cup!

Sebuah kecupan ringan mendarat di pipi kiri Yeri, sontak membuat gadis pemilik surai pirang itu terlonjak kaget. Dan menempelkan kedua tanganya di pipinya yang merona sempurna.

“Kyaaaa! Apa yang kau lakukan pada pipi suciku?”

“Tentu saja menciumu”

“Kim Jungkook!”

 

 

Fin.

 

NB : Hello cupcakers~ yah akhirnya selesai juga bikin drabble yang super gaje ini. tiba-tiba ide terlintas ditengah-tengah WeBe yang melanda otak author dan juga padatnya jadwal UKK. Yah anggap aja ini FF debut buat CottonCandy ya. Salam kenal dan nantikan karya-karyaku selanjutnyaa~^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s