Angst · Chapter · Thriller

Bloody Game [Chapter 2] – iKON Fanfiction

bloody game poster copy_2

Bloody Game [Chapter 2]

Starring
All member iKON
Chapter, Thriller, Brothership, Angst
PG
Babykim’s present
©2015
.
.
.
Happy Reading~

“Kalian semua dipanggil untuk menemui sajangmin di kantornya sekarang”
Setelah salah seorang staff itu mengatakan perintah dari sajangnim. Staff itu berlalu pergi meninggalkan ruang latihan tanpa berkata apapun lagi.
Suasana hening masih tampak menyelimuti mereka semua. Berdiam diri dengan pikiran masing-masing yang terus berkelana tanpa arah. Mereka takut akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi pada mereka selanjutnya. Insiden yang terjadi tadi siang bukan main-main.
Sudah terlalu sering sajangnim menasehati mereka agar mereka semua hidup lebih rukun. Namun peringatan sajangnim hanya mereka anggap bagai angin lalu.
Mudah dicerna oleh kapasitas otak mereka yang dibilang diatas rata-rata. Namun dengan mudahnya pula mereka mengabaikannya. Tak terlalu mengganggap peringatan itu hal yang penting.
“Ayo pergi, sajangnim mungkin sudah menunggu”
Kim Jinhwan. Lelaki yang paling tua diantara member yang lain. Lelaki itu yang mendahului mereka semua. Memberi perintah untuk segera menemui sajangnim. Jika tak ada yang memulainya terlebih dahulu, mungkin mereka semua masih akan berdiam diri di ruang latihan sampai esok hari.
Dengan perasaan yang masih kalut dan air muka mereka semua yang tak terlalu menunjukan mereka memiliki semangat hidup. Mereka semua berdiri dengan lunglai. Berjalan dengan gontai bersama-sama menuju ruang sajangnim di lantai atas gedung YZ Entertainment. Masih dalam keadaan hening.
Kim Jinhwan mengetuk pintu ruangan sajangnim. Terlihat seorang pria parubaya dengan topi yang khas. Terduduk di kursi putar yang empuk dan nyaman. Sembari memegang ipad putih ditangannya. Menyaksikan video latihan dari para trainee asuhannya.
“Kalian sudah datang rupanya. Silahkan duduk”
Dengan melemparkan ipad ditangan keatas meja di depannya. Sementara ketujuh member iKON hanya mengikuti perintah dari sajangnim dengan mengulas senyum teramah yang mereka miliki. Senyum palsu.
“Maafkan kami sajangnim”
Kim Hanbin sang leader memulai pembicaraan terlebih dahulu. Merasa tahu kemana arah dari tujuan sajangnim memanggil mereka semua datang menghadapnya.
“Tak usah khawatir. Kalian semua kupanggil kesini bukan karena masalah yang kalian buat tadi siang—”
Mereka semua yang mendengar itu sontak membelakan matanya. Tak precaya. Tak biasanya sajangnim dengan gampangnya meluruskan masalah seperti ini. Jadi alasan sajangnim memanggil kita semua bukan karena masalah tadi siang? Baiklah ini kabar yang cukup bagus untuk kita semua.

“Aku memanggil kalian kesini untuk membuat persetujuan”
Semua terdiam. Bingung. Persetujuan?
“Aku akan membuat sebuah reality show dimana kalian bertujuh menjadi bintang utamanya. Bagaimana?”
Reality show? Bintang utama? Banyak pikiran yang terus berkelebat dalam otak ketujuh manusia yang sedang duduk di depan sajangnim sekarang.
“Tapi kami belum debut?” sahut lelaki bermata sipit—bobby diujung meja.
“Bagaimana bisa memunculkan kami dalam sebuah reality show?” kini giiliran YunHyeong yang mengajukan pertanyaan.
Member yang lebih sering berdiam diri. Dan seolah tak peduli dengan urusan orang lain hanya terfokus pada dunia dan imajinasinya sendiri, kini mulai angkat bicara. Itu menandakan sebuah topik telah menarik perhatiannya.
“Pertanyaan yang bagus!”
Sajangnim—Yang Hyun Suk bukannya menjawab pertanyaan anak asuhannya. Lelaki paruh baya itu malah tersenyum lebar dan membuat mereka semua kebingungan. Dan dalam waktu yang singkat sajangnim tersebut merubah air mukanya menjadi serius.
“Ini akan menjadi sebuah reality show dimana hanya akan ada satu pemenang—“ semua terdiam. Hanya satu pemenang?
“—dan pemenang itulah yang akan kudebutkan solo pada akhirnya. Selain itu beberapa juta won juga akan kutambahkan.” Iming Yang Hyun Suk.
Mendengar debut solo dan juga hadiah uang yang jumlahnya cukup banyak untuk mereka membuat mereka semakin bersemangat. Tanpa babibu lagi mereka semua mengiyakan tawaran reality show tersebut.
Dengan bodohnya ketujuh laki-laki polos itu menerima suatu ajakan yang akan berujung pada sebuah kematian yang menyakitkan.

***

Pagi hari yang cerah pada tanggal 11 Desember. Udara Seoul sedikit menghangat dengan adanya pancaran sinar matahari di musim dingin. Semua member ikon sudah terbangun dari tidurnya.
Tepat di hari ini juga mereka semua kan memulai syuting dari sebuah reality show dimana mereka bertujuh yang kan menjadi bintang utamanya. “7 Days Became A Star” itulah nama kampungan sebuah reality show yang akan mereka jalani.
Mereka semua sudah siap mengepack barang-barang apa saja yang akan mereka bawa nantinya. Namun yang membuat semua member kebingungan adalah ‘mereka dilarang membawa ponsel’.

Lalu bagaimana mereka bisa berkomunikasi dengan keluarga mereka? Entahlah. Hanya seperti itu aturannya dan mau tak mau mereka harus mematuhinya.
Reality show tersebut akan dilaksanakan selama tujuh hari seperti nama reality show itu sendiri.

Reality show itu akan dilaksanakan di luar negeri, tepatnya salah satu pulau kecil yang ‘katanya’ memiliki panorama yang sangat indah. ‘Bali island’
Cukup menarik bukan?
Semua member melayangkan tatapan menantang satu sama lain. Seolah menyatakan perang dingin ini akan berlangsung semakin lama. Menegaskan dari tatapan mata mereka bahwa mereka adalah pemenangnya. Tak ada salah satu dari mereka yang coba untuk mengalah.
Dengan semangat yang telah mencapai puncak.

Dalam hati mereka bertekad untuk menjadi pemenang akhir nantinya. Solo debut. Hal yang benar-benar ingin mereka capai sendiri-sendiri. Sudah terlalu muak berada dalam satu grup dimana semua member saling melayangkan perang dingin seperti ini.

***

Sarapan pagi bersama dalam dorm ini mungkin akan menjadi sarapan pagi mereka yang terakhir. Masih biasa dengan mereka yang sibuk sendiri mengurusi diri sendiri.
Membuat sarapan untuk mereka sendiri dan dimakan sendiri pula. Tak menghiraukan bagaimana rasanya kebersaman diantara yang lain.
Bobby masih asik sendiri menuangkan kotak serealnya dalam mangkuk sambil bergumam tak jelas dengan earphone besar yang tergantung di kedua telingannya. Disisi lain ada Jinhwan yang sedang berusaha membuat omelet dengan ceceran bahan-bahan makanan yang ada di pantry dapur. Menmbalik-balik omeletnya yang terlihat hampir gosong.
Kemudian di meja makan Donghyuk yang sedang kelabakan karena tangannya tersiran oleh air panas yang ia tuang ketika memasak ramen.
Sungguh kegaduhan yang mereka lakukan sendiri-sendiri seakan tak menghiraukan orang lain atau membutuhkan bantuan yang lain. Mereka terlalu sibuk dengan kebutuhan mereka sendiri.
Terlihat wajah lesu Hanbin yang sejak tadi bolak-balik kamar mandi. Sambil memegangi perutnya yang terasa mulas.

Apa yang ia makan kemarin sampai-sampai perutnya sakit begini?
Mungkin orang lain yang melihatnya akan merasa iba. Dengan penampilan yang acak acakan dan muka pucat yang kentara tercetak di wajah tampannya.
Namun tidak dengan manusia yang berada di rumah satu atap itu. Terbukti dengan Yun Hyeong yang melewati Hanbin begitu saja. Lelaki itu sempat melirik Hanbin yang sedang kesakitan memegangi perutnya. Namun dengan sengaja mengabaikannya. Memilih berjalan kearah kulkas dan mengambil botol air mineral.
Hanbin tak ambil pusing. Toh ia juga tak membutuhkan perhatian dari mereka semua. Kemudian Hanbin mengambil obat sakit perut yang ada di kotak obat mereka. Meminumnya dengan segelas air di meja makan.
Kemudian meletakan gelas yang baru saja ia minum dengan keras keatas meja. Sampai-sampai air yang masih tersisa dalam gelas itu tumpah berceceran ke atas meja, bahkan sampai mengotori lantai.
Semua sadar akan kelakuan yang Hanbin lakukan. Namun tak ada ketertarikan di mata mereka semua. Tak melirik apa yang terjadi di meja makan. Masih fokus pada sarapan mereka sendiri. Tanpa sepatah kata lagi Hanbin masuk kedalam kamarnya dengan perasaan kesal.
Apa alasannya? Ia sendiripun juga tak tahu.
‘Obat yang kuberikan manjur sekali hahaha’ gumam Junhoe dalam hati sembari menyeringai menatap kepergian Hanbin.
Chanwoo yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat air yang menggenang di meja makan ataupun di lantai. Chanwoo berinistiatif untuk membersihkannya.
Ia mengambil kain pel yang terletak di kamar mandi dan mengepelnya sampai kering. Lalu tersenyum dengan bodohnya. Hal itu membuat mata semua member yang sedang melahap makannanya sontak terhenti.
Anak itu bodoh atau apa?
‘Astaga..” desis Junhoe sambil memijit pelipisnya pelan.

***

Tepat jam 9 pagi semua orang sudah berkumpul di gedung pertemuan YZ Entertainment. Banyak kamera dan wartawan yang sudah datang. Menyiapkan kamera terbaik mereka yang siap utuk menangkap bentuk rupawan dari para trainee yang akan segera diperkenalkan kepada khalayak umum.
Yang Hyun Suk—sajangnim itu sudah lebih dulu memasuki ruang konferensi pers. Dengan jepretan kamera disana sini dan juga wartawan dengan laptop dihadapannya dan jari-jari tangan mereka yang lihai mengetikan hasil wawancaranya. Mengajukan pertanyaan satu persatu yang dijawab dengan mudah oleh sajangnim tersebut.
“Kenapa anda berinisiatif untuk memunculkan mereka di layar televisi sajangnim? Padahal mereka saja belum memulai debutnya?”
Seorang wartawan berjas abu-abu serta mata sipit khas orang korea yang terbingkai oleh kacamata tipis yang menggantung di wajahnya mulai angkat bicara.
Tawa khas yang kembali meledak di bibir sajangnim, sontak berhasil membuat semua orang bertanya-tanya.
“Ya mungkin sebagian besar orang akan mengajukan hal yang sama kepadaku seperti ini”
“Reality show yang akan segera ditayangkan ini berjudul ‘7 Days Became A Star’ dimana hanya akan ada satu pemenang diantara mereka bertujuh. Dan orang yang dapat bertahan selama tujuh hari itulah yang akan kudebutkan solo pada nantinya.”
“Jadi…tujuanku membuat reality show ini untuk mereka adalah dengan mengenalkan mereka semua ke media masa sebelum mereka memulai debutnya.” Papar seorang sajangnim perusahan musik terbesar di korea selatan itu.
“Lalu bagaimana dengan sisa keenam member yang kalah?” salah seorang reporter perempuan mengajukan argumennnya.
“Kita liat bersama nanti..” ucap CEO itu menerawang.
Jawaban yang cukup menarik dan misterius. Mungkin CEO memiliki rencaba lain untuk mereka semua.
Jepretan kamera dan ketikan mesin ketik para tangan wartawan itu mulai ramai terdengar setelah pernyataan dari sajangmim. Mereka semua hanya dapat ber-O ria menanggapi semua pernyataan tersebut.
Hal ini mungkin adalah salah satu strategi pemasaran terbaru, sudah bukan rahasia umum lagi bila tangan dingin Yang Hyun Suk selalu berhasil melahirkan bintang besar di Korea dan internasional. Ia mempunyai ide yang brilliant.
Dan di menit berikutnya seorang MC cantik mulai membuka sesi pengenalan para trainee dimana ketujuh trainee tersebut akan memasuki ruang konferensi pers. Semua mata kameramen dan wartawan yang berada disana terfokus pada ketujuh laki-laki tampan yang mulai memasuki ruangan konferensi satu persatu.
Jepretan kamera yang menyilaukan yang mencoba menangkap sosok rupawan ketujuh trainee yang sedang membungkuk memberi salam. Dan melemparkan senyuman yang menawan.
Di menit berikutnya sang sajangnim mulai menyebutkan nama mereka satu persatu. Mengenalkan mereka kepada dunia entertainment yang gemerlap.
Nama yang dipanggil sontak membungkukan badannya 90 derajat memberi hormat pada para wartawan dan tamu yang hadir disana. Lalu mengulas senyum tertampan yang mereka miliki.
Dengan tepuk tangan yang meriah dari para wartawan yang hadir semakin memeriahkan sesi perkenalan yang sedang berlangsung. Begitulah yang terjadi seterusnya sampai semua nama trainee selesai dibacakan.
“Game started!” sajangnim berkata dengan mantap, diiringi oleh jepretan kamera—lagi. dan hari itupun menjadi titik awal sebuah game mematikan yang akan berlangsung selama 7 hari di pulau Bali.

***

Seorang laki-laki dengan snapback di kepalanya berjalan menyusuri tikungan licin sebuah gang kumuh di Seoul. Cuaca dingin hampir membekukan seluruh permukaan jalan. Akibatnya jika tak berhati-hati mungkin saja kau akan terpeleset dan mengalami cidera yang lumayan.
“Akhh!”
Seorang perempuan paruh baya jatuh tergelincir ketika berjalan di atas jalan yang membeku dengan es. Wanita paruhbaya itu mengelus kaki kirinya yang terlihat sedikit membiru karena terantuk jalanan yang keras.
“Eomma!”
Lelaki bersnapback—Kim Hanbin itu hanya dapat melihat ibunya dari balik tiang listrik. Untunglah cahaya di sekitar sini agak minim sehingga memungkinkan ia tak terlihat oleh ibunya.
Ingin rasanya hanbin menghampiri ibunya, menghambur dalam pelukannya, menolong ibunya yang sedang kesakitan. Namun itu hanyalah sebuah bayangan. Toh nyatanya Hanbin tak lebih dari seorang pecundang.
Ia benar-benar malu bertemu dengan ibu kandungnya sendiri. Hanbin tau ibunya telah mengorbankan semua hal agar Hanbin dapat menjadi seorang bintang besar nantinya.
Hanbin merasa tak pantas bertemu dengan ibunya disaat keadaanya masih seperti ini. Hanbin bukan siapa-siapa. Ia belum bisa menghasilkan apapun untuk membuat ibunya bahagia dan bangga padanya. Hanbin sangat menyesal.
“Eomma…” lirih hanbin dengan mata berkaca-kaca ketika melihat ibunya dengan susah payah mencoba berdiri dan memunguti barang belanjaannya yang berserakan diatas jalan. Sungguh Hanbin merasa iba dengan ibunya.
“Tunggu aku eomma, tujuh hari lagi aku akan mewujudkan mimpiku..”

“Doakan aku…” kata Hanbin seraya berjalan menjauh dari tempat itu.

***

Kini tiba saatnya hari dimana mereka semua harus berangkat menuju pulau Bali yang menjadi tempat reality show mereka selama tujuh hari. Bis yang membawa mereka ke bandara sudah menunggu. Semua member masuk kedalam bis itu. seperti biasa Hanbin duduk di pojok dekat jendela.
Ketujuh lelaki itu masih sama. Mereka tak saling menyapa satu sama lain. Perjalanan yang memakan waktu 30 menit untuk sampai di bandarapun terasa sangat panjang dan melelahkan bagi mereka.
Kesunyian itu tak akan terpecahkan jika saja juru kamera tak segera meliput perjalanan mereka ke bandara siang itu. disaat kamera sudah memulai pengambilan gambar, ketujuh lelaki itu mulai dengan permainan ‘menjadi aktor yang baik’.
Semua berakting seolah-olah mereka dekat satu sama lain. Saling bercanda, bergurau, dan tertawa bersama. Sungguh jika ada penghargaan aktor terbaik mungkin mereka semua adalah pemenangnya.
CEO—Yang Hyun Suk sudah menanti mereka di pintu masuk bandara nasional Incheon. Semua member menyapa sang CEO dengan membungkuk memberi hormat.

“Ja! Kalian sudah sampai disini, apa kalian sudah siap?” tanya CEO memastikan.
“Ne!” jawab mereka bertujuh dengan kompak.
“Baiklah segera msuk pesawat. Pesawat akan segera take off, kalian tak mabuk peawat kan?” lelucon yang dilontarkan sang CEO. Semua hanya dapat tertawa masam.

***

Butuh waktu 12 jam untuk mencapai pulau Bali menggunakan pesawat. Ketika mereka keluar dari bandara, sebuah van putih sudah menunggu mereka. Terlihat dengan adanya tanda bahwa van itu dari agency mereka. Van itu yang akan membawa mereka ketempat tujuan yang sebenarnya.
Sepanjang ini para kameramen dan PD masih meliput kegiatan mereka. Dan well mereka juga harus memperpanjang permainan mereka menjadi seorang aktor.
Tak butuh waktu yang lama untuk sampai disebuah villa besar di dekat sebuah pantai.Villa itu cukup besar dan mewah, udara disana juga sangat segar. Villa itu jauh dari keramaian karena letaknya yang sangat sulit dijangkau dari kota.
Bangunan bergaya kuno itu memiliki dua lantai dan terkesan sangat klasik. Ada sebuah kolam renang besar di bagian belakang.
Dan juga pemandangan dari villa terlihat dengan hamparan pasir putih dan birunya air laut. Sungguh menakjubkan! Ini akan menjadi realityshow yang menyenangkan, pikir mereka.
Mereka bertujuh memasuki villa itu sambil menggeret kopernya. Seorang juru kamera berhenti sebelum memasuki villa.
“Kami akan kembali ke Seoul”
“Kalian tak meliput kegiatan kami lagi?” tanya Donghyuk memastikan.
“Tidak, karena akan ada kamera CCTV di sini, kami hanya bisa meliput kalian sampai disini saja..”
Baguslah, pikir Hanbin. Jadi mereka semua tak usah berakting memuakan lagi di depan kamera. Tapi mereka juga harus pandai berakting di depan CCTV agar tak menimbulkan kecurigaan nantinya.
“Baiklah..” Seluruh kameramen dan PD meninggalkan mereka bertujuh di dalam villa.

***

Hari sudah terlalu larut untuk mereka mendebatkan kamar yang akan mereka tempati, saat semua member sedang gaduh berebut kamar, didetik berikutnya tiba-tiba saklar lampu disana mati.
Sungguh ini tak lucu. Ketika Jinhwan akan keluar dari villa untuk memastikan keadaan di luar, pintu villa terkunci.
“Pintunya terkunci..” ucap Jinhwan sedikit nada panik terselip diantaranya.
“Selamat datang! Apa kalian suka rumahnya?” suara bass seorang terdengar melalui pengeras suara di dalam villa tersebut.
“Siapa itu? aku seperti mengenal suara itu” gumam Bobby.
“Aku yang akan memberikan kalian intruksi dalam game ini” ketujuh laki-laki itu terdiam, menyimak setiap kata yang keluar dari pengeras suara yang entah darimana asalnya.
“Intruksi pertama—“ semua terdiam.
“—kalian tak boleh keluar dari rumah ini!”

 

 

 

 

 

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s