Tags

, , , , , , ,

bloody game poster copy_2

Bloody Game [Chapter 1]

Babykim [@ekasull] present

Starring All member iKON

Chapter, Thriller, Brothership, Angst

PG-15

disclaimer : i only own the plot, all character are belong themselves and God. Dont copy and take it without my permission!

.

.

~Happy Reading~

Sebuah bis berhenti di tepian halte di sebuah persimpangan jalan yang sudah terlampau sepi. Bis itu mungkin jadi bis terakhir yang masih beroperasi. Lelaki yang baru saja turun dari bis itu berjalan gontai disepanjang gang sempit yang sepi dan gelap. Kakinya terasa pegal sekali, akibat terkilir saat latihan tadi siang. Jam ditangannya sudah menunjukan pukul 01:00 malam. Sudah menjadi hal yang wajar baginya pulang selarut itu. Bahkan berlatih sampai pagipun sudah biasa terjadi.

Bunyi hewan pengerat di sekitar itu semakin kentara. Dengan tidak adanya manusia yang masih terjaga pada malam selarut ini. Kecuali laki-laki bernama kim jinwan tersebut tentunya. Yang masih harus menemepuh jarak yang dibilang lumayan jauh dari gedung treinee menuju dorm tempat ia tinggal.

Tak ada kendaran seperti bis atau taksi yang melewati tempat ini di malam hari. Satu-satunya cara ia bisa pulang hanya dengan berjalan kaki. Melelahkan sudah pasti. Tapi apa daya demi keinginanya menjadi seorang penyanyi terkenal rasa lelah itu seakan ia kubur jauh-jauh dalam otaknya—walaupun pada kenyatannya lelah.

Lelaki bernama kim jihwan itu berjalan menerobos gelapnya malam bersalju sambil sesekali membenarkan letak hodie tebalnya yang melorot. Satu-satunya benda yang menjadi penghangatnya jika musim dingin tiba seperti sekarang.

Jinhwan memijat pelipisnya sembari mendongak menatap keatas langit gelap yang terus menurunkan butiran-butiran krystal sejuknya. Hidung lelaki itu mulai memerah karena dinginnya udara sekitar. Berkali-kali menghemepaskan nafas beratnya. Hanya kepulan asap yang keluar dari mulutnya. Terselip sebuah nafas keputusasaan disana.

Udara seoul seakan bisa membuat orang mati kedinginan jika berlama-lama diluar rumah seperti ini. Kemudian Jinhwan mempercepat langkahnya. Tepat diujung gang sempit itu terdapat sebuah bangunan tua. Ya itu dorm tempat mereka semua tinggal.

Cukup luas untuk ketujuh trainee itu tinggali. Namun tak cukup layak dihuni untuk seseorang yang akan menjadi bintang besar nantinya.

Berpikir bahwa betapa kaya dan besarnya perusahan tempat mereka dilatih menjadi seorang bintang. Dan pada kenyataannya disinilah mereka memulai semua karirnya. Di rumah tua yang sudah tak layak huni. Yang terletak di gang sempit dan kumuh. Dengan fasilitas yang pas-pasan.

Dan juga jarang ada kendaraan yang berlalu lalang disekitar sini. Yang mengharuskan mereka semua untuk berjalan kaki jika akan pulang dan pergi latihan. Sungguh miris. Tapi seperti itulah kenyataanya. Kehidupan berat dan kejam yang harus para trainee jalani.

Layar televisi memang selalu berhasil membodohi setiap orang. Menayangkan hal-hal yang terlihat menyenangkan dan menghibur. Namun pada keyataanya apa yang terjadi sebenarnya tak se ‘menyenangkan’ yang mereka saksikan di layar telivisi rumah mereka.

Pada kenyataanya dibelakang mereka semua hanya ada kepalsuan dan senyum yang dipaksakan. Yah semua hanya kepalsuan belaka demi meraih perhatian dan minat bagi para penontonnya. Menjujung nama mereka agar semakin tinggi berada di puncak langit. Di puncak kepopularitasan.

Jika mereka melihat kami semua tersenyum gembira, meliput betapa kerasnya kami berlatih. Dan betapa dekatnya hubungan diantara kami semua. Itulah kebohongan dan tawa palsu yang mereka saksikan. Tanpa ada yang tahu ataupun sadar. Mereka telah terbodohi secara tidak langsung. Mengelikan.

Jinhwan membuka pintu setelah memasukan kunci cadangan dorm yang ia bawa. Hal pertama yang ia saksikan yaitu keadaan dorm yang gelap dan sepi. Tak ada satupun lampu yang menyala. Ia tahu bukan hanya dirinya saja yang sudah pulang ke dorm mereka. Terlihat dengan banyaknya pasang sepatu yang berserakan di depan pintu masuk. Yang ia yakini sepatu-sepatu itu adalah milik member lain yang sudah lebih dulu pulang.

Tanpa dirapikan ke tempat sepatu yang sebenarnya berada tak jauh dari pintu masuk. Malas. Mereka semua terlalu malas untuk menata sepatunya kembali kedalam rak. Sudah terlalu lelah. Yang mereka butuhkan hanyalah istirahat. Sebelum memulai latihan yang keras pada esok hari.

Jinhwan melepas hodie tebal yang ia pakai seraya berjalan menuju dapur. Berniat mengambil air mineral sebelum ia pergi tidur. Keadaan ruang makan dengan penerangan yang minim, hanya remang-remang yang dapat ditangkap oleh mata sipitnya.

Dalam kegelapan itu terlihat dengan jelas sosok Kim Hanbin dengan kepala yang ia tidurkan diatas meja makan. Dan tubuh yang terduduk di kursi. Dan juga segelas susu cokelat yang masih tersisa setengah di atas meja. Dan terlihat sudah dingin.

Jinhwan hanya mengacuhkannya dan berjalan melewatinya. Membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin dari dalamanya. Lelaki yang berumur dua tahun di bawahnya itu terbagun karena kehadiran seseorang yang mengusik tidurnya.

Dengan rambut yang sedikit berantakan dan mata sayunya yang sedikit terbuka dan langsung menatap kearah Jinhwan yang sedang meneguk botol air mineralnya.

“Kenapa tidur disini?” ucap Jinhwan pada akhirnya.

Melihat gelagat Habin yang sepertinya masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Lelaki itu hanya menatap Jinhwan sekilas. Kemudian mengangkat pantatnya dari kursi tempat ia duduk. Berpijak pada lantai ruang makan yang dingin. berjalan menjauh tanpa menghiraukan pertanyaan dari hyungnya itu.

Hanbin melenggang pergi dan tak menjawab pertanyaan jnhwan atau memang mungkin sengaja tak menjawabnya.

“Mengganggu tidurku saja!” desis Hanbin pelan sepelan angin seraya menarik knop pintu kamarnya dan masuk kedalamnya.

Namun desisan itu masih terdengar cukup jelas di telinga seorang Kim Jinhwan. Kemudian lelaki mungil itu hanya mendengus sebal. Dan menatap nanar pada sosok Kim Hanbin yang sudah sepenuhnya menghilang di balik pintu.

“Tak ada gunanya aku memberikan perhatian” gumamnya seraya meremas botol bekas air mineralnya sampai tak berbentuk dan melemparkannya sembarang.

Matanya berkabut, tatapan kebencian yang kini menyelimuti kedua iris matanya.

Jinhwan berjalan menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari kamar Hanbin.Melemparkan tubuhnya ke kasur yang cukup dibilang empuk dan nyaman. Badannya serasa remuk dan pegal setelah berlatih menari sepanjang hari.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan seorang laki-laki yang tampak masih sangat muda masuk kedalam kamarnya. Dengan handuk yang masih menempel di kepalanya. Dengan pucuk-pucuk rambut hitamnya yang masih meneteskan air. Tanda kalau laki-laki itu baru saja selesai mandi.

“Kau sudah pulang hyung?” sapa si laki-laki dengan handuk dikepalanya – jung chanwoo – tanpa menatap lawan bicaranya dan masih fokus mengusap rambutnya agar mengering.

Jung Chanwoo adalah yang paling termuda diantara mereka. Sifatnya yang masih sangat polos dan terkesan childish daripada member lainnya. Menjadikannya lebih bersahabat dan terbuka. Ia memiliki jiwa sosial sangat tinggi.

Mengingat saat pertama kali Chanwoo masuk ke grup mereka setahun yang lalu. Masuk melalui audisi yang diselenggarakan agency mereka di tempat tingal Chanwoo. Sampai sekarang Chanwoo belum memiliki banyak teman disini. Menyadari betapa buruknya tabiat dan kelakuan dingin dari semua hyung-hyungnya itu. Membuatnya akan semakin sulit mendapatkan teman.

Tapi tak berlaku pada hyung tertuanya Kim Jinhwan. Cahnwoo menganggap ia telah bersahabat dengan Jinhwan.

Mereka teman satu kamar. Walaupun sikap dingin dari Jinhwan yang sudah biasa Chanwoo terima. Namun jika boeh jujur mereka berdua sebenarnya merasa dekat satu sama lain. Hanya karena adanya dinding pembatas yang disebut ego oleh mereka berdua, menjadikan Jinhwan yang terkesan tak bersahabat dan kaku. mereka semua seakan terpisah dengan jalan pikiran mereka masing-masing.

Aku pikir, hubungan diantara Jinhwan dan Chanwoo mungkin jauh lebih baik dibandingkan dengan yang lain.

“Hmmm..”

Jinhwan hanya mengiyakan pertanyaan maknaenya dengan menggumam pelan. Dengan mata tertutup, raut wajah lelah tercetak jelas di wajah milik Jinhwan. Lelaki mungil itu menggubah posisi tidur yang sebelumnya terlentang memandang langit-langit kamar mereka menjadi memiring memilih menghadap ke tembok. Terlalu malas untuk meladeni maknae yang cerewet itu disaat tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat yang banyak.

Chanwoo yang mengerti akan hal itu hanya menyunggingkan senyum miris. Melemparkan handuk di kepalanya yang menjadi pengering rambutnya yang basah kesembarang tempat. Kemudian melemparkan tubuhnya ke atas kasur tepat di seberang kasur milik Jinhwan. Hari ini akan menjadi malam yang paling tenang bagi mereka. Mungkin. Tanpa ada pertikaian ataupun perkelahian selanjutnya.

***

Tepat di tanggal ke sepuluh bulan Desember ini. Adalah hari dimana udara di kota Seoul semakin mendingin setiap menitnya. Mampu membekukan makhluk-makhluk kecil yang tak terlihat mata. Namun dengan keadaan seperti itu kami tetap berlatih dengan keras. Sampai dinginnya udara tak dirasakan oleh ketujuh laki-laki yang sekarang sedang meliuk-liukan tubuhnya sesuai dengan irama lagu yang bergema diruang latihan mereka.

Nada beat dari lagu yang disetel dengan gerakan dance yang penuh tenaga, nyatanya kurang membuat sang leader kami puas – Kim Hanbin. Dengan jari yang diketuk-ketukan sesuai dengan irama lagu dari pemutar musik di pojok ruangan tersebut.

Kurang pas dan kurang tenaga. Pikirnya. Mencoba mencari gerakan-gerakan yang sesuai degan beat lagu yang berat. Menggangguk-angukan kepala dan sesekali mencoba mencari ketukan dan gerakan yang pas. Dan berakhir dengan dengusan sebal. Tanda ia tak menemukan gerakan yang cocok. Mengacak rambutnya frustasi dan terduduk di depan kaca besar ruang latihan.

Entah sudah berapa kali kami terus mengulangi gerakan-gerakan yang sama dalam tiga jam terakhir. Tanpa istirahat, hanya sekedar meneguk air mineral yang disedikan di pojok ruangan. Dengan hembusan nafas kami yang belum stabil. Masih terengah-engah mencoba mengais sedikit pasokan oksigen yang paruparu kami butuhkan. Menghirup oksigen dengan rakusnya seakan tak ada hari esok untuk menghirupnya lagi. kami semua sudah sangat kelelahan.

“Hyung aku sangat lelah, bisakah kita istirahat sebentar saja?”

Kim Donghyuk mengawali pembicaraan diantara mereka bertujuh. Dirinya sudah tak sanggup lagi menggerakan tubuhnya. Sudah terlalu banyak tenaga yang ia keluarkan. Dengan posisi sekarang ia tidur terlentang pada lantai ruang latihan mereka. Dengan dada yang terlihat masih naik turun tak stabil. Tanda ia kehabisan nafas dan rasa lelah yang datang ke tubuhnya semakin besar.

“Tidak, kita tak akan istirahat sebelum koreografinya selesai” ucap Hanbin sarkastis tanpa menoleh ke arah Donghyuk saat ia mengucapkan sesuatu. Masih asik menatap lantai dibawahnya dengan pikirannya yang terus berimajinasi membuat rangkaian koreografi yang sesuai menurutnya.

“Ayo kita latihan lagi” ucap hanbin seraya beralih memposisikan dirinya di depan cermin besar di hadapannya.

Donghyuk hanya menghembuskan nafas beratnya seraya mencoba bangkit dari posisi tidurnya yang mulai terasa tak nyaman lagi. ia mengacak rambutnya sendiri dengan geram. Seolah melampiaskan rasa kesalnya pada dirinya sendiri.

Member yang lain hanya dapat berdiam diri tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing tanpa ada seorangpun yang berani membela ataupun mendukung pendapat satu sama lain. Walau pada kenyataannya mereka semua mengalami hal yang sama seperti yang Donghyuk rasakan.

Tapi lagi-lagi ego mereka yang terlalu besar menjadi penghalangnya.

Dilain sisi Go Junhoe sudah muak akan situasi sekarang yang terjadi diantara mereka. Dengan perutnya yang terus berbunyi. Tanda ia belum makan apapun hari ini. Dan harus berlatih menari tiga jam nonstop tanpa istirahat dan juga makanan. Ia lelah dan lapar. Tubuhnya benar-benar lemas. Dan sekarang mereka harus berlatih lagi? ini gila !

“Aku lelah dan aku ingin makan” ucap Junhoe lalu berdiri dengan angkuhnya menatap tajam kearah Hanbin. Menatapnya dengan tatapan merendahkan.

“Kita semua bukanlah mesin robot yang dapat bekerja seharian nonstop tanpa asupan makanan. Kita bisa mati kelelahan. Kau tahu?”

Dan dengan santainya ia berjalan keluar dari ruang latihan. Berpikir untuk menuju cafetaria dan memesan sedikit makanan untuk mengisi perut kosongnya. Bayangan itu sudah sangat menyenangkan walaupun hanya diangannya saja.

Namun tepat setelah tubuhnya keluar dari ruangan laknat itu. Bajunya tertarik kebelakang. Yang membuat tubuhnya ikut tertarik juga. Tubuh tinggi milik Junhoe tertarik kembali, masuk kedalam ruangan latihan laknat itu lagi. dan tubuhnya dibenturkan kearah tembok dingin ruang latihan. Siapa lagi yang menyeretnya masuk kembali kalau bukan oleh seorang makhluk bernama Kim Hanbin.

“Kita belum selesai. Dan kita semua juga belum makan seharian ini. Tapi apakah kau ingat evaluasi bulanan sudah semakin dekat?”

Cercah hanbin dengan suaranya yang penuh emosi. Dengan tangan yang mencengkeran baju Junhoe kuat-kuat. Mata yang sekain memerah dan diliputi oleh kabut kemarahan. Dan juga peluh yang menempel di sekujur tubuhnya. Emosinya sudah berada di puncak sekarang. Dirinya juga merasa lelah dan kelaparan.

Namun ambisi untuk menyelesaikan evaluasi bulanan yang rutin dilakukan setiap bulannya oleh agency itu membuatnya mengesampingnya semua rasa lelah dan lapar yang ia rasakan. Sebagai seorang leader ia memiliki tanggung jawab yang besar untuk para anggota yang lainnya.

Tak ingin mengecewkan sajangnim dengan usaha dan kerja keras yang telah ia buat selama ini. “Tapi Junhoe benar, kita semua bukanlah robot. Kita butuh istirahat Hanbin!”

Kini seorang dari mereka mencoba membenarkan perkataan member lain. Sesuatu yang jarang mereka lakukan. Membela satu sama lain. Seorang lelaki jangkung dengan mata segaris dan gigi depan yang mirip kelinci—Bobby. Membenarkan perkataan Junhoe.

Mereka bukanlah robot yang dapat bekerja seharian nonstop tanpa makanan sedikitpun. Mata semua member menatap ke arag hanbin dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca. Dan pada akhirnya salah satu dari mereka kalah saing.

Jika mereka saling membela satu sama lain seperti ini. Hanbin menyerah. Walau ia terus menolak tapi sebenarnya tubuhnya juga lelah butuh istirahat dan makan. Kemudian ia melepaskan cengkeramannya pada baju Junhoe, mentapnya dengan tatapan penuh kebencian.

Kemudian berlalu keluar ruang latihan dengan menutup pintunya sampai terdengar suara Blamm!! Tanda pintu ditutup dengan kerasnya—lebih tepatnya dibanting dengan keras.

Hanbin kalah kali ini dari mereka. Junhoe yang merasa menang dengan argumennya kali ini hanya dapat menyunggingkan smirknya menatap kepergian sosok Hanbin yang diselimuti amarah.

Kemudian melayangkan pandangannya pada sosok Bobby yang masih berdiri di depannya. Dengan pandangann datar yang sedikit menyiratkan ‘terimaksih telah membantuku’ secara tidak langsung.

Kemudian Junhoe berlenggang pergi keluar ruang latihan diikuti oleh member lainnya dengan senyum kemenangan yang terpahat di wajah masing-masing. Namun masih dalam keadaan diam satu sama lain. Entah sejak kapan hubungan mereka jadi kaku seperti ini. Tak tahu siapa yang memulainya terlebih dahulu. Dan tak tahu bagaimana cara mereka untuk mengakhiri kekakuan seperti ini. Dan juga tak ada satupun dari mereka yang mengetahui alasannya. Membingungkan. Tapi itulah keadaan mereka beberapa tahun terakhir ini.

***

Suasana setelah makan siang bukannya semakin membaik namun semakin memperburuk keadaan. Perang dingin diantara mereka bertujutuh masih terus berjalan. Malahan semakin buruk dengan tanpa adanya pembicaraan dari satu sama lain. Menggerakan badan mereka sesuai irama.

Terlihat kompak namun mereka semua menari dengan raut wajah yang ditekuk. Tak menyiratkan adanya kerjasama ataupun kebersamaan mereka semua. Hanya terlihat hasrat dari mereka yang mencoba tampil lebih baik dari yang lain.

Lalu kenapa mereka semua bisa kompak seperti sekarang? Itu mungkin pertanyaan yang tepat untuk diajukan. Profesionalitas. Ya mereka memiliki profesionalitas yang tinggi. Selain itu masing-masing dari mereka juga memiliki bakat yang mumpuni.

Tak heran walaupun perang dingin diantara mereka terus berlangsung tetapi keadaan latihan mereka yang terlihat 180 derajat, sangat berbeda dari kebiasaan mereka yang sering bertengkar ataupun beradu argumen. Seperti tadi siang.

Penampilan mereka yang terlihat sangat kompak menjadikan mereka semua terlihat begitu dekat satu sama lain bagi orang yang menilainya. Bodoh.

Tiba-tiba seorang staff masuk kedalam ruang latihan mereka. ‘Ah benar-benar mengganggu!’ mungkin itu gagasan pertama yang muncul di otak mereka saat ini. Kesal sudah pasti. bagaimana tidak? Disaat mereka benar-benar sedang menikmati latihan mereka dan datang seorang staff yang mengganggu dan menghentikan latihan.

“Kalian semua dipanggil untuk menemui sajangmin di kantornya sekarang”

Dipanggil? Sajangnim?

Tiba-tiba suasana ruang latihan menjadi hening. Semua terdiam memikirkan alasan kenapa sajangnim tiba-tiba memanggil mereka semua.

Adakah hal penting yang ingin sajangnim bicarakan pada mereka? Mungkin pertanyaan itu sudah berkelebat di pikiran ketujuh laki-laki itu. Perasaan senang campur khawatir terus menyelimuti mereka.

Dan bagaimana jika sajangnim memanggil mereka bukan karena masalah kami akan segera debut atau tentang bagaimana latihan yang kami lakukan beberapa bulan terakhir. Tetapi dengan kekacauan yang kami buat. Tentang perdebatan sebelum makan siang berlangsung.

Dengan Hanbin dan Junhoe yang hampir saja berkelahi. Dan bodohnya kami yang tak menyadari adanya CCTV yang terpasang di pojok ruang latihan. Semuanya telah terekam. Dan mungkin sajangnim telah melihatnya.

Sungguh kami benar-benar bodoh!

To be Continue

Advertisements